![]() |
| Penampilan memukau dari Project Budaya Sumatera (PBS) menjadi salah satu sajian paling berkesan dalam Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2026, di Lapangan Merdeka, Medan, Senin (29/6/2026) |
SINARSUMUT.COM/MEDAN
Riuh tepuk tangan menggema di Lapangan Merdeka, Medan, ketika tirai pertunjukan sendratari "Kasih Tak Sampai" ditutup. Penampilan memukau dari Project Budaya Sumatera (PBS) menjadi salah satu sajian paling berkesan dalam Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2026, menghadirkan perpaduan tari, teater, dialog, narasi, dan musik Melayu yang sukses menyentuh hati para penonton.
Tak sekadar menyuguhkan kemegahan seni tradisi, pertunjukan ini menghadirkan kisah yang dekat dengan realitas masyarakat. Melalui cerita cinta dua insan yang harus berakhir karena tuntutan gengsi dan kemewahan pesta pernikahan, PBS mengajak publik merenungkan kembali makna sejati adat Melayu yang menjunjung tinggi musyawarah, penghormatan, dan penyatuan dua keluarga.
Balutan koreografi yang anggun, dialog yang emosional, narasi yang kuat, serta iringan musik Melayu yang dimainkan secara langsung menciptakan suasana yang begitu hidup. Penonton tampak larut dalam setiap adegan hingga memberikan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi atas karya yang sarat nilai budaya dan pesan moral tersebut.
Penampilan itu turut disaksikan oleh Wali Kota Medan, Wakil Wali Kota Medan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, serta perwakilan Kementerian Pariwisata. Kehadiran para pejabat dan tamu undangan menambah semarak perhelatan budaya yang mempertemukan seniman Melayu dari berbagai daerah.
Pimpinan Project Budaya Sumatera, Ghandur Siraj, mengatakan keikutsertaan PBS dalam GEMES 2026 bukan sekadar memenuhi undangan tampil, tetapi menjadi bagian dari misi memperkenalkan seni pertunjukan berbasis riset budaya kepada masyarakat luas.
"Gelar Melayu Serumpun merupakan ruang yang sangat penting bagi para seniman untuk bertemu, berdialog, dan saling belajar. Bagi kami, tradisi harus terus hidup melalui karya yang lahir dari riset, kolaborasi, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Sementara itu, Dramaturg sekaligus Sutradara, Erik Nofriwandi, menegaskan bahwa "Kasih Tak Sampai" lahir dari kegelisahan terhadap fenomena sosial yang masih kerap terjadi di tengah masyarakat, ketika nilai adat mulai bergeser oleh gengsi dan tuntutan kemewahan.
"Kami tidak sedang mengkritik adat Melayu. Sebaliknya, kami ingin mengajak masyarakat kembali memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, yaitu keseimbangan, musyawarah, dan penghormatan antarkeluarga. Ketika gengsi menjadi ukuran utama, nilai-nilai itu perlahan kehilangan maknanya," katanya.
Keikutsertaan Project Budaya Sumatera di GEMES 2026 menjadi bukti bahwa seni tradisi mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Melalui pendekatan artistik yang inovatif, kolaborasi lintas disiplin, dan riset budaya yang mendalam, PBS menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah derasnya arus modernisasi.
Lebih dari sekadar sebuah pertunjukan, "Kasih Tak Sampai" menjadi pengingat bahwa adat bukan hanya warisan masa lalu, melainkan pedoman hidup yang tetap relevan untuk menjaga keharmonisan masyarakat. Dengan karya-karya seperti inilah, Project Budaya Sumatera terus mempertegas komitmennya membawa kekayaan budaya Sumatera melangkah ke panggung yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Salamudin)

