Ramadan dan Semangat Rekonsiliasi: Balitbang Golkar Gaungkan Spirit Fathu Makkah

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DPP Partai Golkar menggelar buka puasa bersama Ballroom Puri Ratna, Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (8/3/2026).

SINARSUMUTNEWS.COM/Jakarta 

Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Ballroom Puri Ratna, Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (8/3/2026). Dalam momentum bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DPP Partai Golkar menggelar buka puasa bersama yang tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi tentang persatuan dan rekonsiliasi bangsa.

Mengusung tema “Fathu Makkah: Rekonsiliasi Tanpa Balas Dendam,” kegiatan ini mengajak para kader, tokoh nasional, dan undangan yang hadir untuk mengambil pelajaran dari salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam: penaklukan Makkah yang berlangsung tanpa dendam, tanpa kekerasan, dan penuh semangat memaafkan.

Acara diawali dengan laporan panitia yang disampaikan Sekretaris Panitia, Agus Wahyudiono, yang menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan momentum mempererat hubungan antar kader serta memperkuat peran Balitbang sebagai pusat pemikiran yang memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

“Buka puasa bersama ini menjadi ruang kebersamaan sekaligus penguatan silaturahmi antar kader dan para tokoh yang memiliki perhatian terhadap peran Balitbang dalam memberikan gagasan strategis bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Sementara itu, tuan rumah acara Hariyadi Budi Santoso menyampaikan kegelisahannya terhadap kondisi bangsa yang dinilainya sedang menghadapi berbagai tantangan serius.

Sebagai pelaku usaha, ia mengaku merasakan langsung dampak dari situasi tersebut. Karena itu, menurutnya, lembaga pemikiran seperti Balitbang Partai Golkar memiliki peran penting dalam merumuskan gagasan dan solusi untuk menjaga kekuatan bangsa.

“Saya merasa terpanggil melihat kondisi bangsa kita yang saat ini tidak baik-baik saja. Sebagai pelaku usaha, saya merasakan langsung dampaknya. Karena itu saya melihat di Balitbang Partai Golkar ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk ikut menjaga dan memperkuat bangsa ini,” ungkapnya.

Ketua Balitbang Partai Golkar, Yuddy Chrisnandi, dalam sambutannya menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum penting untuk mempererat kebersamaan sekaligus memperkuat nilai persaudaraan di antara kader partai.

Ia menegaskan bahwa Balitbang memiliki peran strategis sebagai pusat gagasan dan pemikiran dalam tubuh Partai Golkar untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

“Balitbang merupakan bagian integral dari Partai Golkar yang memiliki peran penting dalam melahirkan gagasan, pemikiran, dan rekomendasi kebijakan untuk kemajuan bangsa,” katanya.

Nuansa reflektif semakin terasa ketika acara dilanjutkan dengan ceramah Ramadan yang disampaikan oleh Hajriyanto Y. Thohari, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon periode 2019–2025.

Dalam ceramahnya, ia mengulas dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Israel dan Iran. Melalui perspektif tersebut, ia mengajak umat Islam mengambil pelajaran dari peristiwa Fathu Makkah, yang menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan yang dilandasi dendam, melainkan kemenangan yang menghadirkan rekonsiliasi, kemanusiaan, dan perdamaian.

Menurutnya, semangat memaafkan yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW saat penaklukan Makkah merupakan teladan besar dalam membangun peradaban yang damai.

“Peristiwa Fathu Makkah mengajarkan bahwa rekonsiliasi jauh lebih mulia daripada balas dendam. Di situlah letak keagungan moral dalam kepemimpinan,” ujarnya.

Acara buka puasa bersama ini juga dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Bambang Patijaya, Ilham Akbar Habibie, Satya Widya Yudha, Bommer Pasaribu, Yasril Ananta Baharuddin, Lili Asdjudiredja, Ganjar Razuni, Basri Sidehabi, Pieter LD Watimena, Nasir Tamara, M. Lutfhie Witto’eng, Henry Indraguna, Amiruddin Asep, Alfan Alfian, Binny Buchori, serta Sekretaris Jenderal PPK Kosgoro 1957 M. Sabil.

Di tengah suasana Ramadan yang penuh makna, pertemuan tersebut tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menegaskan pesan penting: bahwa persatuan, rekonsiliasi, dan semangat memaafkan merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa. (SN)

Lebih baru Lebih lama